A.Pengertian Kalor dan Pengukurannya
Ada dua buah zat yang memiliki temperatur berbeda dicampurkan pada sebuah wadah. Maka temperatur kedua benda tersebut akan menjadi sama. Besarnya temperatur akhir berada di antara temperatur awal kedua zat tersebut. Pada gejala ini, kalor berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih rendah hingga mencapai temperatur setimbangnya. Pada 1850, untuk pertama kalinya Joule menggunakan sebuah alat yang di dalamnya terdapat beban-beban yang jatuh dan merotasikan sekumpulan pengaduk di dalam sebuah wadah air yang tertutup. Dalam satu siklus, beban-beban yang jatuh tersebut melakukan sejumlah kerja pada air tersebut dengan massa air adalah m dan air tersebut mengalami kenaikan temperatur sebesar Δt . Percobaan ini menerangkan tentang adanya energi yang menyebabkan timbulnya kalor dalam siklus tersebut. Kalor dapat didefinisikan sebagai proses transfer energi dari suatu zat ke zat lainnya dengan diikuti perubahan temperatur. Satuan kalor adalah joule (J) yang diambil dari nama seorang ilmuwan yang telah berjasa dalam bidang ilmu Fisika, yaitu James Joule. Satuan kalor lainnya adalah kalori. Hubungan satuan joule dan kalori, yakni 1 kalori = 4,184 joule.
B.Mengukur Kalor
Pengukuran kalor sering dilakukan untuk
menentukan kalor jenis suatu zat. Dengan mengetahui kalor jenis suatu zat maka
dapat dihitung banyaknya kalor yang dilepaskan atau diserap dengan mengetahui
massa zat dan perubahan suhunya, menggunakan persamaan: Q = m cΔT
Alat yang dapat digunakan untuk mengukur kalor
adalah kalorimeter. Salah satu bentuk kalorimeter ialah kalorimeter campuran
yang secara bagan tampak pada gambar 4.4 di bawah ini. Kalorimeter terdiri atas
sebagai berikut.
- Sebuah bejana kecil terbuat dari logam tipis
yang di gosok mengkilat. Bejana inilah yang dinamakan kalorimeternya.
- Sebuah bejana yang agak besar, untuk
memasukkan kalorimeternya. Di antara kedua bejana itu dipasang isolator yang
berfungsi untuk mengurangi kehilangan kalor karena dihantarkan atau dipancarkan
sekitarnya.
- Penutup dari isolator panas yang telah
dilengkapi dengan termometer dan pengaduk. Pengaduk biasanya juga terbuat dari
logam sejenis.
C.Kalor Jenis dan Kapasitas Kalor
Apabila temperatur dari suatu benda
dinaikkan dengan besar kenaikan temperatur yang sama, ternyata setiap benda
akan menyerap energi kalor dengan besar yang berbeda. Misalnya, terdapat empat
buah bola masingmasing terbuat dari aliminium, besi, kuningan, dan timah.
Keempat bola ini memiliki massa sama dan ditempatkan di dalam suatu tempat yang
berisi air mendidih. Setelah 30 menit, keempat bola akan mencapai kesetimbangan
termal dengan air dan akan memiliki temperatur yang sama dengan temperatur air.
Kemudian, keempat bola diangkat dan ditempatkan di atas kepingan parafin. Bola
aluminium dapat melelehkan parafin dan jatuh menembus parafin. Beberapa sekon
kemudian, bola besi mengalami kejadian yang sama. Bola kuningan hanya dapat
melelehkan parafin sebagian, sedangkan bola timah hampir tidak dapat melelehkan
parafin. Bagaimanakah Anda dapat menjelaskan kejadian yang terjadi pada keempat
bola tersebut? Keempat bola tersebut menyerap kalor dari air mendidih, kemudian
memindahkan kalor tersebut pada parafin sehingga parafin meleleh. Oleh karena
setiap benda memiliki kemampuan berbeda untuk melelehkan parafin, setiap bola
akan memindahkan kalor dari air ke parafin dengan besar yang berbeda. Kemampuan
yang dimiliki setiap benda ini berhubungan dengan kalor jenis benda tersebut.
Kalor jenis suatu benda dapat didefinisikan sebagai jumlah kalor
yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 kg suatu zat sebesar 1K. Kalor jenis menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menyerap kalor. Semakin besar kalor jenis suatu benda, semakin besar pula
kemampuan benda tersebut untuk menyerap kalor. Secara matematis, kalor jenis
suatu zat dapat dituliskan sebagai berikut.
c = Q / m.Δt …. (7–9)
dengan:
c = kalor jenis suatu zat (J/kg
K),
Q = kalor (J),
m = massa benda (kg), dan
ΔT =
perubahan temperatur (K).
Untuk suatu benda, faktor mc dipandang sebagai satu kesatuan dan faktor ini disebut
sebagai kapasitas kalor. Secara matematis dituliskan sebagai berikut.
C = c m =Q/m …….(7–10)
Satuan kapasitas kalor adalah J/K. Jika Persamaan (7–9) dan Persamaan (7–10) diuraikan, besarnya kalor suatu zat adalah
Q = m cΔT ………(7–11)
Q = C ΔT
Ø
Contoh
Air sebanyak 100 gram yang memiliki temperatur
25 °C dipanaskan dengan energi sebesar 1.000 kalori. Jika kalor jenis air
1 kal/g °C, tentukanlah temperatur air setelah pemanasan tersebut.
Jawab
Diketahui: m = 100 gram,
T0 = 25 °C,
cair = 1 kal/g°C, dan
Q = 1.000 kal.
Dengan menggunakan Persamaan (7–11), diperoleh
Q = mc ΔT
ΔT = Q/mc = 1.000
kal / 100 gram × 1 kal/g°C
ΔT = 10°C
Perubahan temperatur memiliki arti selisih
antara temperatur akhir air setelah pemanasan terhadap temperatur awal, atau
secara matematis dituliskan sebagai berikut.
ΔT = T – T0
10°C = T – 25°C
T = 35°C
Jadi, temperatur akhir air setelah pemanasan
adalah 35°C.
2 komentar:
thanks ilmunya
thanks yaa semoga bermanfaat :)
Posting Komentar